Sabtu, 24 September 2011

Sai’id bin Jubairz


Sai’id bin Jubairz
Permata Hitam dari Habsyi

Sa'id bin Jubair z, seorang keturu-nan Habsyi berkulit legam dengan rambut keriting dan postur tubuh kekar serta memiliki fisik yang kuat. Sifat lahiriyahnya barangkali merupakan 'kekurangan' di mata manusia, akan tetapi jika mengetahui betapa kuat iman yang ada dalam hatinya, maka tak ada pilihan lain bagi semua orang kecuali mengormati dan mengagumi-nya.
Berbekal ilmu dari para sahabat besar seperti Ibnu Abbas dan Abu Sa'id al Khudry, berbagai ujian dihadapinya dengan tabah. Suatu ketika, karena perlawanannya atas kelaliman pemerinta-han Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafy, beliau ditangkap dan dihadapkan pada Hajjaj untuk 'diadili'. Beberapa orang sebelum beliau telah dibunuh karena enggan untuk menyatakan diri sebagai kafir. Sa'id dibawa menuju kota Wasith dan dihadapkan pada Hajjaj.
Dengan penuh kebencian, Hajjaj bin Yusuf menatapnya dan berkata, "Siapa namamu?"
"Sa'id (bahagia) bin Jubair (perkasa)."
"Engkau Syaqi (celaka) bin Kasir (lumpuh)."
"Ibuku lebih tahu namaku daripada engkau."
"Apa pendapatmu tentang Muhammad?"
"Maksudmu Muhammad bin Abdullah n?."
"Benar.'
"Ia keturunan Adam q yang paling utama dan terpilih. Paling baik diantara yang hidup dan paling mulia diantara yang mati. Mengemban risalah dan menyampai-kan amanat serta menasehati manusia kerana Allah."
"Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?"
"Ash Shiddiq z khalifah Rasulullah n. Wafat secara terpuji dan hidup mulia. Dia meninggal sedang tuntunan Rasul tak ada yang rusak atau diubah."
"Apa pendapatmu tentang Umar?"
"Al Faruq z pembeda yang haq dan yang batil.  Pilihan Allah dan Rasul-Nya yang telah mengikuti dua sahabatnya, maka dia hidup mulia dan mati sebagai syahid."
"Bagaimana pendapatmu  tentang Utsman?"
"Membekali pasukan Usrah dan meringakan beban pasukan Islam. Menantu dari dua putri Rasulullah n dan dinikahkan dari langit lalu terbunuh secara dzalim."
"Bagaimana dengan Ali?"
"Kemenakan Nabi n dan remaja pertama yang memeluk Islam. Ayah dari Hasan dan Husein, dua pemuda ahli surga."
"Diantara Khalifah Bani Umayah, siapa yang paling kau sukai?"
"Yang diridhoi Allah dan yang bakti pada-Nya."
"Yang mana yang bakti pada Tuhannya?"
"Tentang itu, Allah Maha Tahu atas yang tampak dan yang tersembunyi."
"Apa pendapatmu tentang diriku?"
"Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri."
"Aku ingin tahu pendapatmu!"
"Itu akan menjengkelkan dan menyakitimu."
"Aku harus tahu dan mendengar-nya!"
"Yang kutahu, kau telah melanggar Kitab-Nya, kau mengutamakan perkara yang menurutmu hebat padahal justru membawamu ke neraka."
"Demi Allah, kalau begitu aku akan membunuhmu!"
"Kalau begitu, kau akan merusak duniaku dan aku akan merusak akhirat-mu."
"Pilihlah cara mati yang kau sukai!"
"Pilihlah sendiri hai Hajjaj!... karena demi Allah , setiap cara yang kau lakukan, Ia akan membalasmu dengan yang setimpal."
"Tidakkah kau menginginkan ampunanku?"
"Ampunan itu milik Allah dan engkau tak memiliki ampunan atau alasan lagi di hadapan-Nya."
Amarah Hajjaj meledak hingga ubun-ubun. "Siapkan pedang dan alasnya!"
Sa'id tersenyum mendengarnya sehingga Hajjaj bertanya, "Kenapa kau tersenyum?!"
"Aku takjub atas kecongkakanmu pada Allah dan kebijaksanaan-Nya atasmu."
"Algojo! Cepat penggal orang ini!"
Sa'id bin Jubair menghadap kiblat dan menyitir ayat, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Yang menciptakan langit dan bumi, dan cende-rung pada agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang musyrik." Ayat ini adalah bunyi ayat ke 79 surat al An'am.
"Palingkan dia dari Kiblat!" perintah Hajjaj.
"Kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah." Ayat 115 surat al Baqarah.
"Sungkurkan dia ke tanah!"
"Dari tanah kami menciptakanmu dan kepadanyalah kamu dikembalikan dan darinya kami akan mengeluarkanmu disaat yang lain." Surat Thaha ayat 55.
"Cepat sembelih orang ini! Aku belum pernah melihat orang yang suka berdalih dengan ayat seperti orang ini!"
Sa'id mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, " Ya Allah, janganlah kau beri dia kesempatan melakukannya atas orang lain setelahku…"
Said bin Jubair z pun meninggal dengan penuh ketenangan. Selang beberapa hari dari kematiannya, Hajjaj jatuh sakit dan kian parah. Ia sering berteriak-teriak, "Sa'id hendak mener-kamku..!" dan akhirnya diapun meninggal. (ap?b)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar