Minggu, 06 Maret 2011

Shilah Bin Asyyam Al-Adawi (‘Abib di malam hari, Pahlawan di siang hari)


Shilah Bin Asyyam Al-Adawi
(‘Abib di malam hari, Pahlawan di siang hari)

Di depanmu wahai jiwa, ada masa tidur yang panjang
            Kelak akan lama berbaring di kuburan
Mungkin dalam kesengsaraan atau dalam keberuntungan
            Maka pilihlah hari ini wahai Mu’azhah
Apa yang engkau pilih untuk esok

Itulah sebuah syair yang diucapkan Mu’azhah Al-Adawiyah, seorang wanita shalihah dari golongan tabi’iyah. Wanita yang bertakwa dan suci hatinya, tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika malam tiba berkata : “Boleh jadi malam ini adalah malam terakhir bagiku”, lalu beliau tidak tidur sampai fajar. Jika siang hari dia berkata : “Barangkali hari ini adalah hari terakhir bagiku”, kemudian beliau memanfaatkan hari itu untuk beramal sholih, sedangkan malam yang sunyi digunakannya untuk melakukan shalat dan taqarrub kepada Allah ta’ala.
            Wanita inilah yang dipilih oleh Shilah bin Asyyam untuk menjadi pelengkap separuh diennya, dengan sifat zuhudnya terhadap dunia dan ketekunannya dalam beribadah, maka akan semakin lengkap dengan melaksanakan sunnah Nabi Muhammad SAW tersebut. Pada malam pernikahan, keponakannya membawa beliau ke pemandian panas, lalu memasukkan dia ke rumah yang bagus dan wangi. Ketika mempelai telah bersama, Shilah sholat sunnah dua rekaat sedangkah Mu’azhah bermakmum dibelakangnya. Hanyut oleh kekhusyu’an shalat, keduanya shalat hingga menjelang fajar. Keesokan harinya, putra pamannya datang seraya berkata : “Wahai putra pamanku, engkau telah mendapat hadiah putri pamanmu, tapi engkau tinggalkan dia, engkau shalat semalam suntuk”.
            Beliau menjawab: “Engkau mengajakku masuk ketempat yang membuatku ingat neraka. Setelah itu engkau mengajakku masuk keruangan yang membuatku ingat surga. Maka pikiranku terbelah dua hingga pagi”.
Keponakannya bertanya : “Tempat manakah yang anda maksud wahai pamanku?” Beliau berkata : “Kemarin engkau bawa aku ke pemandian air panas, maka aku ingat akan panasnya jahannam. Kemudian engkau masukkan aku ke kamar pengantin, maka aku ingat akan wewangian surga”.
            Dalam hal da’wah, beliau juga seorang penda’wah yang ulung, mampu memahami waqi’i (keadaan) dan kejiwaan sang mad’u. Sebagai contoh, tatkala beliau pergi kesuatu tempat bersama sahabat-sahabatnya, mereka berpapasan dengan seorang pemuda yang berjalan dengan congkak sambil membiarkan kainnya terjulur ke tanah. Sahabat-sahabat Shilah ingin memberi pelajaran kepada pemuda itu dengan lisan atau tindakan yang keras, namun shilah berkata kepada mereka: “Biarlah aku saja yang menegurnya.”
            Beliau menghampiri pemuda tersebut, kemudian beliau berkata dengan lembut layaknya seorang ayah berkata kepada anak yang disayanginya, dengan rasa tulus dan jujur,
Shilah              : “Wahai putra saudaraku, aku ada perlu denganmu”
Pemuda           : “Ada perlu apa gerangan, wahai paman?”
Shilah              : “Angkatlah pakaian bawahmu, sebab itu lebih menjaga ketakwaanmu   kepada Allah dan lebih dekat dengan sunnah Nabimu”
Pemuda           : “Baik, dengan senang hati”
Lalu pemuda tadi membenahi pakaiannya. Shilah berkata kepada para sahabatnya :”Itulah cara yang lebih baik dari pada yang kalian kehendaki. Andai saja kalian memukul tentulah dia akan balas memukul dan mengumpat kalian, sedangkan pakaiannya tetap terjulur menyapu tanah”
            Shilah bin Asyyam bukan sekedar seorang ahli ibadah, banyak taubat dan zuhud, tetapi juga seorang mujahid serta pahlawan yang tangkas dan tangguh. Setiap pemimpin mengharapkan dia bergabung dalam pasukannya. Masing-masing ingin memetik keutamaan dari tekad dan keberaniannya.
            Ja’far bin Zaid menuturkan kisahnya : “ Kami berangkat dalam sebuah peperangan, sementara Shilah bin Asyyam dan Hisyam bin Amir berada dalam regu kami. Begitu berhadapan dengan pasukan musuh, Shilah dan temannya itu langsung menerjang dan masuk ditengah-tengah mereka. Membabatkan pedang ke kanan dan ke kiri dengan tangkas hingga musuh kocar-kacir.
            Para pemimpin pasukan musuh berkata satu sama lain: “Dua musuh saja cukup memporak-porandakan kita, bagaimana jadinya jika semua terjun dalam kancah perang? Maka menyerahlah mereka dan tunduklah kepada mereka.”
            Tahun 76 Hijriyah, Shilah turut serta dalam pasukan muslimin yang bergerak menuju daerah seberang sungai (Turkistan) disertai oleh putranya. Tatkala dua pasukan telah berhadapan dan perang telah berkobar, Shilah berkata kepada putranya: “Wahai putraku, majulah dahulu dan gempurlah musuh-musuh Allah itu agar aku bisa mengorbankan dirimu kepada-Nya demi ridho-Nya dan tidak hilang segala titipan-Nya.”
            Dengan segera, bergegaslah pemuda tersebut terjun ke medan perang bagaikan anak panah terlepas dari busurnya. Dia terus berperang hingga akhirnya tersungkur syahid. Kemudian ayahnya menyusul memasuki kancah peperangan dan berjuang hingga syahid di sisi putranya.
            Semoga Allah menggembirakan wajah-wajah yang mulia ini. Yang tak segan-segan mengorbankan dirinya demi Islam dan kaum muslimin. Sejarah telah mencatat, pengorbanan dan perjuangan Shilah bin Asyyam menjadi tinta emas yang patut dijadikan qudwah bagi seluruh kaum muslimin.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar