Selasa, 29 Maret 2011

Meraih Kebahagiaan Bersama Agama Islam

Meraih Kebahagiaan, Menaklukkan Kesulitan

By: M. Agus Syafii

Jika hendak memilih pasangan hidup sesungguhnya, lihatlah dirinya ketika menghadapi masalah dan bagaimana cara dia menyelesaikan masalah tersebut. Sebab sosok pribadi yang sesungguhnya terlihat disaat bagaimana dia menyeselesaikan masalahnya. Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin mengatakan bahwa setiap kali target ditingkatkan maka jalannya menjadi sulit, kendalanya banyak dan dibutuhkan waktu lebih lama, kullama zada al mathlub sho`uba masalikuhu wa katsura `aqabatuhu wa thala zamanuhu. Jadi tingkat kesulitan berhubungan dengan tingkat target. Jika orang ingin sekedar senang dalam hidup, maka ia dapat mencari kesenangan instan, pergi ke tempat hiburan, berfoya-foya dan berpesta pora. Tetapi jika seseorang ingin meraih kebahagiaan, maka ia justru harus siap menderita menghadapi kesulitan, melupakan kesenangan jangka pendek.


Manusia didesain oleh Allah dengan sempurna, memiliki akal sebagai alat berfikir, hati sebagai alat memahami, nurani sebagai alat interospeksi, syahwat sebagai penggerak tingkah laku dan hawa nafsu sebagai tantangan. Kesemuanya itu dirancang untuk menghadapi medan kehidupan yang sulit. Dengan akal manusia bisa memecahkan masalah yang sulit, dengan hati manusia bisa menerima kenyataan yang pahit, dengan nurani manusia bisa mundur selangkah demi memperbaiki diri, dengan syahwat membuat manusia dinamis mencari dan dengan hawa nafsu manusia menjadi tertantang untuk mampu mengendalkan diri.

Manusia di satu sisi memang menyukai stabilitas dan kenyamanan hidup, tetapi di sisi lain manusia juga menyukai kesulitan. Manusia tidak selalu lari dari kesulitan, sebaliknya justru menantang kesulitan. Jika dalam kehidupan sehari-hari hidup selalu stabil dan nyaman tanpa menjumpai kesulitan, maka dibuatlah stimulasi agar orang menaklukkan kesulitan buatan. Mahasiswa berlomba naik tebing buatan (wall climbing), pembalap mobil mencari medan berlumpur, yang berperahu mengikuti arum jeram, setiap agustusan orang ramai-ramai memanjat pohon pinang yang dilumuri olie, yang sudah punya dua kaki justeru berlomba lari dalam karung.

Banyak sekali kesulitan yang sengaja dibuat untuk ditaklukkan, mengapa ? karena manusia memang memiliki tabiat tertantang. Kesulitan buatan pada umumnya hanya melahirkan kesenangan, yakni senang menjadi juara, tetapi belum tentu sampai kepada kebahagiaan. Kesusahan biasanya menambahi kesulitan, tetapi tidak semua kesulitan membuat susah. Ada keindahan dalam kesulitan yaitu disaat kita menyandarkan semua kesulitan kepada Sang Khaliq dan kita bisa meraih kebahagiaan dengan menaklukkan kesulitan.



Wassalam,

M. Agus Syafii

Keyword:: "Artikel Islam, hukum islam, agama islam, Kebahagiaan dalam Islam "

Kamis, 10 Maret 2011

Sai’id bin Jubair


Sai’id bin Jubair
Permata Hitam dari Habsyi

Sa'id bin Jubair , seorang keturu-nan Habsyi berkulit legam dengan rambut keriting dan postur tubuh kekar serta memiliki fisik yang kuat. Sifat lahiriyahnya barangkali merupakan 'kekurangan' di mata manusia, akan tetapi jika mengetahui betapa kuat iman yang ada dalam hatinya, maka tak ada pilihan lain bagi semua orang kecuali mengormati dan mengagumi-nya.
Berbekal ilmu dari para sahabat besar seperti Ibnu Abbas dan Abu Sa'id al Khudry, berbagai ujian dihadapinya dengan tabah. Suatu ketika, karena perlawanannya atas kelaliman pemerinta-han Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafy, beliau ditangkap dan dihadapkan pada Hajjaj untuk 'diadili'. Beberapa orang sebelum beliau telah dibunuh karena enggan untuk menyatakan diri sebagai kafir. Sa'id dibawa menuju kota Wasith dan dihadapkan pada Hajjaj.
Dengan penuh kebencian, Hajjaj bin Yusuf menatapnya dan berkata, "Siapa namamu?"
"Sa'id (bahagia) bin Jubair (perkasa)."
"Engkau Syaqi (celaka) bin Kasir (lumpuh)."
"Ibuku lebih tahu namaku daripada engkau."
"Apa pendapatmu tentang Muhammad?"
"Maksudmu Muhammad bin Abdullah n?."
"Benar.'
"Ia keturunan Adam q yang paling utama dan terpilih. Paling baik diantara yang hidup dan paling mulia diantara yang mati. Mengemban risalah dan menyampai-kan amanat serta menasehati manusia kerana Allah."
"Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?"
"Ash Shiddiq z khalifah Rasulullah n. Wafat secara terpuji dan hidup mulia. Dia meninggal sedang tuntunan Rasul tak ada yang rusak atau diubah."
"Apa pendapatmu tentang Umar?"
"Al Faruq z pembeda yang haq dan yang batil.  Pilihan Allah dan Rasul-Nya yang telah mengikuti dua sahabatnya, maka dia hidup mulia dan mati sebagai syahid."
"Bagaimana pendapatmu  tentang Utsman?"
"Membekali pasukan Usrah dan meringakan beban pasukan Islam. Menantu dari dua putri Rasulullah n dan dinikahkan dari langit lalu terbunuh secara dzalim."
"Bagaimana dengan Ali?"
"Kemenakan Nabi n dan remaja pertama yang memeluk Islam. Ayah dari Hasan dan Husein, dua pemuda ahli surga."
"Diantara Khalifah Bani Umayah, siapa yang paling kau sukai?"
"Yang diridhoi Allah dan yang bakti pada-Nya."
"Yang mana yang bakti pada Tuhannya?"
"Tentang itu, Allah Maha Tahu atas yang tampak dan yang tersembunyi."
"Apa pendapatmu tentang diriku?"
"Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri."
"Aku ingin tahu pendapatmu!"
"Itu akan menjengkelkan dan menyakitimu."
"Aku harus tahu dan mendengar-nya!"
"Yang kutahu, kau telah melanggar Kitab-Nya, kau mengutamakan perkara yang menurutmu hebat padahal justru membawamu ke neraka."
"Demi Allah, kalau begitu aku akan membunuhmu!"
"Kalau begitu, kau akan merusak duniaku dan aku akan merusak akhirat-mu."
"Pilihlah cara mati yang kau sukai!"
"Pilihlah sendiri hai Hajjaj!... karena demi Allah , setiap cara yang kau lakukan, Ia akan membalasmu dengan yang setimpal."
"Tidakkah kau menginginkan ampunanku?"
"Ampunan itu milik Allah dan engkau tak memiliki ampunan atau alasan lagi di hadapan-Nya."
Amarah Hajjaj meledak hingga ubun-ubun. "Siapkan pedang dan alasnya!"
Sa'id tersenyum mendengarnya sehingga Hajjaj bertanya, "Kenapa kau tersenyum?!"
"Aku takjub atas kecongkakanmu pada Allah dan kebijaksanaan-Nya atasmu."
"Algojo! Cepat penggal orang ini!"
Sa'id bin Jubair menghadap kiblat dan menyitir ayat, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Yang menciptakan langit dan bumi, dan cende-rung pada agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang musyrik." Ayat ini adalah bunyi ayat ke 79 surat al An'am.
"Palingkan dia dari Kiblat!" perintah Hajjaj.
"Kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah." Ayat 115 surat al Baqarah.
"Sungkurkan dia ke tanah!"
"Dari tanah kami menciptakanmu dan kepadanyalah kamu dikembalikan dan darinya kami akan mengeluarkanmu disaat yang lain." Surat Thaha ayat 55.
"Cepat sembelih orang ini! Aku belum pernah melihat orang yang suka berdalih dengan ayat seperti orang ini!"
Sa'id mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, " Ya Allah, janganlah kau beri dia kesempatan melakukannya atas orang lain setelahku…"
Said bin Jubair z pun meninggal dengan penuh ketenangan. Selang beberapa hari dari kematiannya, Hajjaj jatuh sakit dan kian parah. Ia sering berteriak-teriak, "Sa'id hendak mener-kamku..!" dan akhirnya diapun meninggal. (ap?b)

Minggu, 06 Maret 2011

Taubatnya Malik bin Dinar -Rohimahullah-


TAUBATNYA MALIK BIN DINAR
 

Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli manusia. Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku.

Malik bin Dinar Rohimahullah menuturkan: Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah.

Aku sangat mencintai Fathimah. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku.
Pernah suatu ketika Fathimah melihatku memegang segelas khamr, maka diapun mendekat kepadaku dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala -lah yang membuatnya melakukan hal tersebut.

Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala selangkah, maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.

Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, setan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.
Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat.
Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.
Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku: “Mari menghadap al-Jabbar!”
Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Akupun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Akupun berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis karena iba dengan keadaanku seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak: “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”

Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku. Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.
Dia berkata kepadaku:
“Wahai ayah, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)

Maka kukatakan: “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”
Dia berkata: “Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”

Dia Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dia Rohimahullah berkata:
Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imampun membaca ayat yang sama:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)
.....

Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi'in, dan termasuk ulama Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”

Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru: “Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu! Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari. Dia berfirman kepadamu: “Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberikan rizki taubat kepada kita. Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. (Misanul I'tidal, III/426).

Shilah Bin Asyyam Al-Adawi (‘Abib di malam hari, Pahlawan di siang hari)


Shilah Bin Asyyam Al-Adawi
(‘Abib di malam hari, Pahlawan di siang hari)

Di depanmu wahai jiwa, ada masa tidur yang panjang
            Kelak akan lama berbaring di kuburan
Mungkin dalam kesengsaraan atau dalam keberuntungan
            Maka pilihlah hari ini wahai Mu’azhah
Apa yang engkau pilih untuk esok

Itulah sebuah syair yang diucapkan Mu’azhah Al-Adawiyah, seorang wanita shalihah dari golongan tabi’iyah. Wanita yang bertakwa dan suci hatinya, tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika malam tiba berkata : “Boleh jadi malam ini adalah malam terakhir bagiku”, lalu beliau tidak tidur sampai fajar. Jika siang hari dia berkata : “Barangkali hari ini adalah hari terakhir bagiku”, kemudian beliau memanfaatkan hari itu untuk beramal sholih, sedangkan malam yang sunyi digunakannya untuk melakukan shalat dan taqarrub kepada Allah ta’ala.
            Wanita inilah yang dipilih oleh Shilah bin Asyyam untuk menjadi pelengkap separuh diennya, dengan sifat zuhudnya terhadap dunia dan ketekunannya dalam beribadah, maka akan semakin lengkap dengan melaksanakan sunnah Nabi Muhammad SAW tersebut. Pada malam pernikahan, keponakannya membawa beliau ke pemandian panas, lalu memasukkan dia ke rumah yang bagus dan wangi. Ketika mempelai telah bersama, Shilah sholat sunnah dua rekaat sedangkah Mu’azhah bermakmum dibelakangnya. Hanyut oleh kekhusyu’an shalat, keduanya shalat hingga menjelang fajar. Keesokan harinya, putra pamannya datang seraya berkata : “Wahai putra pamanku, engkau telah mendapat hadiah putri pamanmu, tapi engkau tinggalkan dia, engkau shalat semalam suntuk”.
            Beliau menjawab: “Engkau mengajakku masuk ketempat yang membuatku ingat neraka. Setelah itu engkau mengajakku masuk keruangan yang membuatku ingat surga. Maka pikiranku terbelah dua hingga pagi”.
Keponakannya bertanya : “Tempat manakah yang anda maksud wahai pamanku?” Beliau berkata : “Kemarin engkau bawa aku ke pemandian air panas, maka aku ingat akan panasnya jahannam. Kemudian engkau masukkan aku ke kamar pengantin, maka aku ingat akan wewangian surga”.
            Dalam hal da’wah, beliau juga seorang penda’wah yang ulung, mampu memahami waqi’i (keadaan) dan kejiwaan sang mad’u. Sebagai contoh, tatkala beliau pergi kesuatu tempat bersama sahabat-sahabatnya, mereka berpapasan dengan seorang pemuda yang berjalan dengan congkak sambil membiarkan kainnya terjulur ke tanah. Sahabat-sahabat Shilah ingin memberi pelajaran kepada pemuda itu dengan lisan atau tindakan yang keras, namun shilah berkata kepada mereka: “Biarlah aku saja yang menegurnya.”
            Beliau menghampiri pemuda tersebut, kemudian beliau berkata dengan lembut layaknya seorang ayah berkata kepada anak yang disayanginya, dengan rasa tulus dan jujur,
Shilah              : “Wahai putra saudaraku, aku ada perlu denganmu”
Pemuda           : “Ada perlu apa gerangan, wahai paman?”
Shilah              : “Angkatlah pakaian bawahmu, sebab itu lebih menjaga ketakwaanmu   kepada Allah dan lebih dekat dengan sunnah Nabimu”
Pemuda           : “Baik, dengan senang hati”
Lalu pemuda tadi membenahi pakaiannya. Shilah berkata kepada para sahabatnya :”Itulah cara yang lebih baik dari pada yang kalian kehendaki. Andai saja kalian memukul tentulah dia akan balas memukul dan mengumpat kalian, sedangkan pakaiannya tetap terjulur menyapu tanah”
            Shilah bin Asyyam bukan sekedar seorang ahli ibadah, banyak taubat dan zuhud, tetapi juga seorang mujahid serta pahlawan yang tangkas dan tangguh. Setiap pemimpin mengharapkan dia bergabung dalam pasukannya. Masing-masing ingin memetik keutamaan dari tekad dan keberaniannya.
            Ja’far bin Zaid menuturkan kisahnya : “ Kami berangkat dalam sebuah peperangan, sementara Shilah bin Asyyam dan Hisyam bin Amir berada dalam regu kami. Begitu berhadapan dengan pasukan musuh, Shilah dan temannya itu langsung menerjang dan masuk ditengah-tengah mereka. Membabatkan pedang ke kanan dan ke kiri dengan tangkas hingga musuh kocar-kacir.
            Para pemimpin pasukan musuh berkata satu sama lain: “Dua musuh saja cukup memporak-porandakan kita, bagaimana jadinya jika semua terjun dalam kancah perang? Maka menyerahlah mereka dan tunduklah kepada mereka.”
            Tahun 76 Hijriyah, Shilah turut serta dalam pasukan muslimin yang bergerak menuju daerah seberang sungai (Turkistan) disertai oleh putranya. Tatkala dua pasukan telah berhadapan dan perang telah berkobar, Shilah berkata kepada putranya: “Wahai putraku, majulah dahulu dan gempurlah musuh-musuh Allah itu agar aku bisa mengorbankan dirimu kepada-Nya demi ridho-Nya dan tidak hilang segala titipan-Nya.”
            Dengan segera, bergegaslah pemuda tersebut terjun ke medan perang bagaikan anak panah terlepas dari busurnya. Dia terus berperang hingga akhirnya tersungkur syahid. Kemudian ayahnya menyusul memasuki kancah peperangan dan berjuang hingga syahid di sisi putranya.
            Semoga Allah menggembirakan wajah-wajah yang mulia ini. Yang tak segan-segan mengorbankan dirinya demi Islam dan kaum muslimin. Sejarah telah mencatat, pengorbanan dan perjuangan Shilah bin Asyyam menjadi tinta emas yang patut dijadikan qudwah bagi seluruh kaum muslimin.