Apakah arti status kita sebagai seorang muslim? Apakah cukup seseorang dikatakan muslim jika telah mengucapkan syahadat? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya apabila kita merujuk kepada kisah awal penciptaan manusia. Bagaimana iblis dilaknat oleh Allah Swt. Padahal ia tahu dan yakin bahwa Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Esa. Namun karena kecongkakannya, ia menolak untuk bersujud hormat kepada Nabi Adam as. Sebab itulah, Allah Swt mengusirnya dari surga dan menjanjikan tempatnya kekal di neraka. Na‘ûdzu bi’lLâh min dzâlik…
Maka iman alias kepercayaan saja tidaklah cukup, dibutuhkan Islam sebagai bukti akan keimanan itu sendiri.
إِنَّماَ اْلمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتاَبُوْا وَجَاهَدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ - الحجرات: 14
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sejati adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Hujurat: 14)
Adapun bentuk keislaman sendiri telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah, teladan yang sempurna bagi umat manusia. Beliau adalah seorang yang sukses di berbagai bidang. Sebagai kepala keluarga, beliau berhasil menjaga keutuhan dan
keharmonisan rumah tangga. Sebagai orang tua, beliau paling sayang terhadap anak cucu beliau. Sebagai pedagang, kejujuran beliau tersiar ke mana-mana, tak heran bila Siti Khadijah (yang juga saudagarnya) jatuh hati dan meminang beliau. Sebagai tetangga, beliau pun menjenguk tetangganya yang sakit, walau tetangga tersebut selalu melempari beliau dengan kotoran.
Tidak hanya berkisar pada keseharian, Rasulullah Saw. juga sukses dalam mengatur pemerintahan. Beliau berhasil membangun masyarakat madani yang majemuk dan penuh toleransi di Madinah saat dunia masih buta akan hak-hak asasi manusia. Di medan perang, pasukan muslim sangat diperhitungkan oleh musuh. Meski kabilah Quraisy dan kabilah-kabilah lain yang membenci Islam bersekutu dalam perang Ahzab, berkat pertolongan Allah Swt dan strategi yang jitu, Madinah berhasil dipertahankan.
Peran beliau yang menyeluruh sebenarnya menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang mencakup semua lini kehidupan. Kehidupan pribadi, keluarga, bertetangga, bermasyarakat, hingga bernegara. Tak satupun luput dari bidikan Islam.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِياَّهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا - الإسراء: 23
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada mereka “ah”. Janganlah engkau membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. al-Isrâ’: 23)
Al-Quran pun telah mencantumkan kaidah dasar yang terpakai dalam pemerintahan
وَأَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ - الشورى: 38
“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (Q.S. al-Syûrâ: 38)
Dalam perdagangan Allah Swt dengan jelas melarang riba
وَأَحَلَّ اللهُ اْلبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّباَ - البقرة: 275
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q.S. al-Baqarah: 275)
Jadi, Islam merupakan jalan hidup. Ia lebih dari sekedar agama. Ia hadir tidak hanya di masjid. Namun ia hadir di rumah, sekolah, kantor, pasar, jalan, hingga terminal.
Bisakah Manusia Lepas dari Islam?
Setiap perbuatan manusia pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Tiada satu pekerjaan manusia yang terlepas dari pengawasan Allah Swt. Entah jual beli baju, laporan keuangan kantor, browsing internet, bahkan tukang ojek. Jika perbuatan kita baik, maka akan baik pula balasan yang akan kita dapat. Sebaliknya, bila amalan kita buruk, pantaskah kita mengharap pahala dan surga?
Dengan kata lain kehidupan kita di dunia berhubungan erat dengan kehidupan kita di akhirat. Islam menghargai manusia lahir dan batin. Kebutuhan manusia tidak hanya berkutat pada masalah uang, makanan dan air, tapi juga ketenangan batin, kepuasan ruhani dan kedekatan kepada Sang Khalik. Kebutuhan materi dapat dipenuhi dengan usaha keras dan doa, namun apakah kebutuhan ruh kita juga tercukupi dengan banting tulang memeras keringat?
Saat fajar tiba, Islam mengajak pemeluknya untuk bangkit, membuka semangat baru dengan menghadap Allah Swt. Di sela-sela terik, muadzin menyiram letih batin dengan panggilannya. Ketika bayangan memanjang hingga dua kali bendanya, Ashar tiba menjemput batin yang lunglai. Menyiramkan kesegaran baru untuk meneruskan hidup. Tatkala hari berakhir, shalat menjadi sandaran hati untuk berlabuh dan beristirahat. Tak hanya itu, Allah Swt pun turun ke langit dunia pada sepertiga terakhir malam, menunggu hamba-hamba-Nya yang mengadu segala resah dan kesah. Menumpahkan gelut batin yang membekap jiwa… Subhanallah, alangkah indah!
أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ اْلقُلُوْبُ - الرعد: 28
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenteram.” (Q.S. al-Ra‘d: 28)
Jika keadaan batin sehat, usaha kita pun akan maksimal. Senyum terkembang, permasalahan dapat terpecahkan dengan tenang. Orang-orang di sekitar kita pun senang. Bila Allah telah menjadi penolong kita, maka tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya.
Ialah Islam, satu-satunya agama yang mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, lahir dan batin. Tepat apabila Muhammad Iqbal mengatakan bahwa titel insân kâmil (manusia yang sempurna) hanya dapat dicapai oleh seorang muslim mukmin. Karena hanya seorang muslim mukminlah yang dapat menyelaraskan antara dunia dan akhirat, antara jiwa dan raga, ruh dan jasmani.
Islam sebagai jalan Hidup
Dari uraian di atas, tampaklah bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang komplit. Islam tidak hanya sebatas kalimat yang diucapkan, tapi juga dipraktekkan dalam keseharian. Hanya dengan cara inilah Islam dapat berkembang.
Sejarah telah membuktikan, kebangkitan imperium Islam dari zaman Rasulullah Saw hingga dinasti Umawiyah di Andalusia (sekarang negara Spanyol) disebabkan oleh ketinggian budi umat muslim. Penduduk Andalusia yang kala itu dikuasai oleh kerajaan Gothic, mayoritas beragama Kristen dan Yahudi. Mereka terkesima oleh toleransi dan ketulusan prajurit Islam, bertolakbelakang dengan Raja Theodoric yang sewenang-wenang. Pasukan yang dipimpin Thariq bin Ziyad dianggap oleh masyarakat Andalus sebagai penyelamat ketimbang penakluk.
Sebaliknya, kehancuran dinasti Umawiyah bermula ketika umat Islam melupakan ajarannya. Para penguasa saling berebut kekuasaan dan kenikmatan duniawi, alpa akan tuntutan Allah Swt di hari hisab. Satu per satu daerah kekuasaan Islam melepaskan diri menjadi kerajaan sendiri. Tak jarang satu kerajaan menjalin kerjasama dengan pihak Kristen hanya untuk menghancurkan kerajaan Islam yang lain. Ironis.
Dengan demikian, sangat tepat bila Islam dikatakan sebagai sebuah jalan hidup. Kita sebagai muslim harus bangga menjadi bagian dari umat terbaik. Sebagai pemeluk satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah Swt.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ - آل عمران: 110
“Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kalian menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 110)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ اْلخاَسِرِيْنَ - آل عمران: 85
“Dan barangsiapa menghendaki agama selain Islam, sekali-kali tidak akan pernah diterima (amalannya). Dan di akhirat, dia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Q.S. Âli ‘Imrân: 85)
Selanjutnya pilihan menunggu di depan mata kita. Apa yang akan kita perbuat sesuai dengan status kita sebagai seorang muslim?
Senin, 31 Mei 2010
Minggu, 30 Mei 2010
74 nasehat Untuk pemuda muslim
Segala puji bagi Allah yang berfirman:“Dan sungguh Kami telah memerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa’: 131)
Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad yang bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan patuh.”
Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Wa ba’du:
Berikut ini adalah wasiat islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah, muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan. Kami persembahkan wasiat ini sebagai peringatan kepada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya. Dan agar memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.
1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun perbuatan.
2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.
3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.
5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang terbersit di hatimu.
6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik ataupun yang buruk.
7. Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya pendirian.
8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti/mencontohmu dalam mengamalkannya.
9. Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu, demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.
10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis.
11. Jagalah selalu shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid terlebih lagi sahalat ‘Isya dan Fajr (shubuh).
12. Janganlah memakan makanan yang mempunyai bau yang tidak enak seperti bawang putih dan bawang merah. Dan janganlah merokok agar tidak membahayakan dirimu dan kaum muslimin.
13. Jagalah selalu shalat berjamaah agar engkau mendapat kemenangan dengan pahala yang ada pada shalat berjamaah tersebut.
14. Tunaikanlah zakat yang telah diwajibkan dan janganlah engkau bakhil kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
15. Bersegeralah berangkat untuk shalat Jumat dan janganlah berlambat-lambat sampai setelah adzan kedua karena engkau akan berdosa.
16. Puasalah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar Allah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu ataupun yang akan datang.
17. Hati-hatilah dari berbuka di siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur syar’i sebab engkau akan berdosa karenanya.
18. Tegakkanlah shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan terlebih-lebih pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar engkau mendapatkan ampunan atas dosa-dosamu yang telah lalu.
19. Bersegeralah untuk haji dan umrah ke Baitullah Al-Haram jika engkau termasuk orang yang mampu dan janganlah menunda-nunda.
20. Bacalah Al-Qur’an dengan mentadaburi maknanya. Laksanakanlah perintahnya dan jauhi larangannya agar Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagimu di sisi rabmu dan menjadi penolongmu di hari qiyamat.
21. Senantiasalah memperbanyak dzikir kepada Allah baik perlahan-lahan ataupun dikeraskan, apakah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring. Dan hati-hatilah engkau dari kelalaian.
22. Hadirilah majelis-majelis dzikir karena majelis dzikir termasuk taman surga.
23. Tundukkan pandanganmu dari aurat dan hal-hal yang diharamkan dan hati-hatilah engkau dari mengumbar pandangan, karena pandangan itu merupakan anak panah beracun dari anak panah Iblis.
24. Janganlah engkau panjangkan pakaianmu melebihi mata kaki dan janganlah engkau berjalan dengan kesombongan/keangkuhan.
25. Janganlah engkau memakai pakaian sutra dan emas karena keduanya diharamkan bagi laki-laki.
26. Janganlah engkau menyeruapai wanita dan janganlah engkau biarkan wanita-wanitamu menyerupai laki-laki.
27. Biarkanlah janggutmu karena Rasulullah: “Cukurlah kumis dan panjangkanlah janggut.” (HR. Bukhari Dan Muslim)
28. Janganlah engkau makan kecuali yang halal dan janganlah engkau minum kecuali yang halal agar doamu diijabah.
29. Ucapkanlah "bismillah" ketika engkau hendak makan dan minum dan ucapkanlah "alhamdulillah" apabila engkau telah selesai.
30. Makanlah dengan tangan kanan, minumlah dengan tangan kanan, ambillah dengan tangan kanan dan berilah dengan tangan kanan.
31. Hati-hatilah dari berbuat kezhaliman karena kezhaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.
32. Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang mukmin dan janganlah dia memakan makananmu kecuali engkau dalam keadaan bertaqwa (dengan ridla dan memilihkan makanan yang halal untuknya).
33. Hati-hatilah dari suap-menyuap (kolusi), baik itu memberi suap, menerima suap ataupun perantaranya, karena pelakunya terlaknat.
34. Janganlah engkau mencari keridlaan manusia dengan kemurkaan Allah karena Allah akan murka kepadamu.
35. Ta’atilah pemerintah dalam semua perintah yang sesuai dengan syari’at dan doakanlah kebaikan untuk mereka.
36. Hati-hatilah dari bersaksi palsu dan menyembunyikan persaksian.
“Barangsiapa yang menyembunyikan persaksiannya maka hatinya berdosa. Dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 283)
37. “Dan ber amar ma’ruf nahi munkarlah serta shabarlah dengan apa yang menimpamu.” (Luqman: 17)
Ma’ruf adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya , dan munkar adalah apa-apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.
38. Tinggalkanlah semua hal yang diharamkan baik yang kecil ataupun yang besar dan janganlah engkau bermaksiat kepada Allah dan janganlah membantu seorangpun dalam bermaksiat kepada-Nya.
39. Janganlah engkau dekati zina. Allah berfirman: “Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah kekejian dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra’:32)
40. Wajib bagimu berbakti kepada orang tua dan hati-hatilah dari mendurhakainya.
41. Wajib bagimua untuk silaturahim dan hati-hatilah dari memutuskan hubungan silaturahim.
42. Berbuat baiklah kepada tetanggamu dan janganlah menyakitinya. Dan apabila dia menyakitimu maka bersabarlah.
43. Perbanyaklah mengunjungi orang-orang shalih dan saudaramu di jalan Allah.
44. Cintalah karena Allah dan bencilah juga karena Allah karena hal itu merupakan tali keimanan yang paling kuat.
45. Wajib bagimu untuk duduk bermajelis dengan orang shalih dan hati-hatilah dari bermajelis dengan orang-orang yang jelek.
46. Bersegeralah untuk memenuhi hajat (kebutuhan) kaum muslimin dan buatlah mereka bahagia.
47. Berhiaslah dengan kelemahlembutan, sabar dan teliti. Hatilah-hatilah dari sifat keras, kasar dan tergesa-gesa.
48. Janganlah memotong pembicaraan orang lain dan jadilah engkau pendengar yang baik.
49. Sebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal ataupun tidak engkau kenal.
50. Ucapkanlah salam yang disunahkan yaitu "assalamualaikum" dan tidak cukup hanya dengan isyarat telapak tangan atau kepala saja.
51. Janganlah mencela seorangpun dan mensifatinya dengan kejelekan.
52. Janganlah melaknat seorangpun termasuk hewan dan benda mati.
53. Hati-hatilah dari menuduh dan mencoreng kehormatan oarng lain karena hal itu termasuk dosa yang paling besar.
54. Hati-hatilah dari namimah (mengadu domba), yakni menyampaikan perkataan di antara manusia dengan maksud agar terjadi kerusakan di antara mereka.
55. Hati-hatilah dari ghibah, yakni engkau menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang dia benci jika mengetahuinya.
56. Janganlah engkau mengagetkan, menakuti dan menyakiti sesama muslim.
57. Wajib bagimu melakukan ishlah (perdamaian) di antara manusia karena hal itu merupakan amalan yang paling utama.
58. Katakanlah hal-hal yang baik, jika tidak maka diamlah.
59. Jadilah engkau orang yang jujur dan janganlah berdusta karena dusta akan mengantarkan kepada dosa dan dosa mengantarakan kepada neraka.
60. Janganlah engkau bermuka dua. Datang kepada sekelompok dengan satu wajah dan kepada kelompok lain dengan wajah yang lain.
61. Janganlah bersumpah dengan selain Allah dan janganlah banyak bersumpah meskipun engkau benar.
62. Janganlah menghina orang lain karena tidak ada keutamaan atas seorangpun kecuali dengan taqwa.
63. Janganlah mendatang dukun, ahli nujum serta tukang sihir dan jangan membenarkan (perkataan) mereka.
64. Janganlah menggambar gambar manuasia dan binatang. Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah tukang gambar.
65. Janganlah menyimpan gambar makhluk yang bernyawa di rumahmu karena akan menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahmu.
66. Tasymitkanlah orang yang bersin dengan membaca: "yarhamukallah" apabila dia mengucapkan: "alhamdulillah"
67. Jauhilah bersiul dan tepuk tangan.
68. Bersegeralah untuk bertaubat dari segala dosa dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan karena kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan hati-hatilah dari menunda-nunda.
69. Berharaplah selalu akan ampunan Allah serta rahmat-Nya dan berbaik sangkalah kepada Allah .
70. Takutlah kepada adzab Allah dan janganlah merasa aman darinya.
71. Bersabarlah dari segala mushibah yang menimpa dan bersyukurlah dengan segala kenikamatan yang ada.
72. Perbanyaklah melakukan amal shalih yang pahalanya terus mengalir meskipun engkau telah mati, seperti membangun masjid dan menyebarakan ilmu.
73. Mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah dari nereka.
74. Perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah.
Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya sampai hari kiamat juga kepada keluarganya dan seluruh shahabatnya.
(Diterjemahkan dari buletin berjudul 75 Washiyyah li Asy-Syabab terbitan Daarul Qashim Riyadl-KSA oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir)
Serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad yang bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah , serta agar kalian mendengar dan patuh.”
Dan takwa kepada Allah adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Wa ba’du:
Berikut ini adalah wasiat islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah, muamalah, akhlak, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan. Kami persembahkan wasiat ini sebagai peringatan kepada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Kami memohon kepada Allah agar menjadikan hal ini bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya. Dan agar memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.
1. Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya’ baik dalam perkataan ataupun perbuatan.
2. Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlak.
3. Bertaqwalah kepada Allah dan ber’azamlah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
4. Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha dan perbanyaklah istighfar.
5. Ingatlah bahwa Allah senatiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu dan mengetahui apa yang terbersit di hatimu.
6. Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik ataupun yang buruk.
7. Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak punya pendirian.
8. Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti/mencontohmu dalam mengamalkannya.
9. Peganglah kitab Riyadlush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu, demikian juga kitab Zaadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim.
10. Jagalah selalu wudlu’mu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis.
11. Jagalah selalu shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid terlebih lagi sahalat ‘Isya dan Fajr (shubuh).
12. Janganlah memakan makanan yang mempunyai bau yang tidak enak seperti bawang putih dan bawang merah. Dan janganlah merokok agar tidak membahayakan dirimu dan kaum muslimin.
13. Jagalah selalu shalat berjamaah agar engkau mendapat kemenangan dengan pahala yang ada pada shalat berjamaah tersebut.
14. Tunaikanlah zakat yang telah diwajibkan dan janganlah engkau bakhil kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
15. Bersegeralah berangkat untuk shalat Jumat dan janganlah berlambat-lambat sampai setelah adzan kedua karena engkau akan berdosa.
16. Puasalah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar Allah mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu ataupun yang akan datang.
17. Hati-hatilah dari berbuka di siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur syar’i sebab engkau akan berdosa karenanya.
18. Tegakkanlah shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan terlebih-lebih pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar engkau mendapatkan ampunan atas dosa-dosamu yang telah lalu.
19. Bersegeralah untuk haji dan umrah ke Baitullah Al-Haram jika engkau termasuk orang yang mampu dan janganlah menunda-nunda.
20. Bacalah Al-Qur’an dengan mentadaburi maknanya. Laksanakanlah perintahnya dan jauhi larangannya agar Al-Qur’an itu menjadi hujjah bagimu di sisi rabmu dan menjadi penolongmu di hari qiyamat.
21. Senantiasalah memperbanyak dzikir kepada Allah baik perlahan-lahan ataupun dikeraskan, apakah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring. Dan hati-hatilah engkau dari kelalaian.
22. Hadirilah majelis-majelis dzikir karena majelis dzikir termasuk taman surga.
23. Tundukkan pandanganmu dari aurat dan hal-hal yang diharamkan dan hati-hatilah engkau dari mengumbar pandangan, karena pandangan itu merupakan anak panah beracun dari anak panah Iblis.
24. Janganlah engkau panjangkan pakaianmu melebihi mata kaki dan janganlah engkau berjalan dengan kesombongan/keangkuhan.
25. Janganlah engkau memakai pakaian sutra dan emas karena keduanya diharamkan bagi laki-laki.
26. Janganlah engkau menyeruapai wanita dan janganlah engkau biarkan wanita-wanitamu menyerupai laki-laki.
27. Biarkanlah janggutmu karena Rasulullah: “Cukurlah kumis dan panjangkanlah janggut.” (HR. Bukhari Dan Muslim)
28. Janganlah engkau makan kecuali yang halal dan janganlah engkau minum kecuali yang halal agar doamu diijabah.
29. Ucapkanlah "bismillah" ketika engkau hendak makan dan minum dan ucapkanlah "alhamdulillah" apabila engkau telah selesai.
30. Makanlah dengan tangan kanan, minumlah dengan tangan kanan, ambillah dengan tangan kanan dan berilah dengan tangan kanan.
31. Hati-hatilah dari berbuat kezhaliman karena kezhaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.
32. Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang mukmin dan janganlah dia memakan makananmu kecuali engkau dalam keadaan bertaqwa (dengan ridla dan memilihkan makanan yang halal untuknya).
33. Hati-hatilah dari suap-menyuap (kolusi), baik itu memberi suap, menerima suap ataupun perantaranya, karena pelakunya terlaknat.
34. Janganlah engkau mencari keridlaan manusia dengan kemurkaan Allah karena Allah akan murka kepadamu.
35. Ta’atilah pemerintah dalam semua perintah yang sesuai dengan syari’at dan doakanlah kebaikan untuk mereka.
36. Hati-hatilah dari bersaksi palsu dan menyembunyikan persaksian.
“Barangsiapa yang menyembunyikan persaksiannya maka hatinya berdosa. Dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Baqarah: 283)
37. “Dan ber amar ma’ruf nahi munkarlah serta shabarlah dengan apa yang menimpamu.” (Luqman: 17)
Ma’ruf adalah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya , dan munkar adalah apa-apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.
38. Tinggalkanlah semua hal yang diharamkan baik yang kecil ataupun yang besar dan janganlah engkau bermaksiat kepada Allah dan janganlah membantu seorangpun dalam bermaksiat kepada-Nya.
39. Janganlah engkau dekati zina. Allah berfirman: “Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah kekejian dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra’:32)
40. Wajib bagimu berbakti kepada orang tua dan hati-hatilah dari mendurhakainya.
41. Wajib bagimua untuk silaturahim dan hati-hatilah dari memutuskan hubungan silaturahim.
42. Berbuat baiklah kepada tetanggamu dan janganlah menyakitinya. Dan apabila dia menyakitimu maka bersabarlah.
43. Perbanyaklah mengunjungi orang-orang shalih dan saudaramu di jalan Allah.
44. Cintalah karena Allah dan bencilah juga karena Allah karena hal itu merupakan tali keimanan yang paling kuat.
45. Wajib bagimu untuk duduk bermajelis dengan orang shalih dan hati-hatilah dari bermajelis dengan orang-orang yang jelek.
46. Bersegeralah untuk memenuhi hajat (kebutuhan) kaum muslimin dan buatlah mereka bahagia.
47. Berhiaslah dengan kelemahlembutan, sabar dan teliti. Hatilah-hatilah dari sifat keras, kasar dan tergesa-gesa.
48. Janganlah memotong pembicaraan orang lain dan jadilah engkau pendengar yang baik.
49. Sebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal ataupun tidak engkau kenal.
50. Ucapkanlah salam yang disunahkan yaitu "assalamualaikum" dan tidak cukup hanya dengan isyarat telapak tangan atau kepala saja.
51. Janganlah mencela seorangpun dan mensifatinya dengan kejelekan.
52. Janganlah melaknat seorangpun termasuk hewan dan benda mati.
53. Hati-hatilah dari menuduh dan mencoreng kehormatan oarng lain karena hal itu termasuk dosa yang paling besar.
54. Hati-hatilah dari namimah (mengadu domba), yakni menyampaikan perkataan di antara manusia dengan maksud agar terjadi kerusakan di antara mereka.
55. Hati-hatilah dari ghibah, yakni engkau menceritakan tentang saudaramu apa-apa yang dia benci jika mengetahuinya.
56. Janganlah engkau mengagetkan, menakuti dan menyakiti sesama muslim.
57. Wajib bagimu melakukan ishlah (perdamaian) di antara manusia karena hal itu merupakan amalan yang paling utama.
58. Katakanlah hal-hal yang baik, jika tidak maka diamlah.
59. Jadilah engkau orang yang jujur dan janganlah berdusta karena dusta akan mengantarkan kepada dosa dan dosa mengantarakan kepada neraka.
60. Janganlah engkau bermuka dua. Datang kepada sekelompok dengan satu wajah dan kepada kelompok lain dengan wajah yang lain.
61. Janganlah bersumpah dengan selain Allah dan janganlah banyak bersumpah meskipun engkau benar.
62. Janganlah menghina orang lain karena tidak ada keutamaan atas seorangpun kecuali dengan taqwa.
63. Janganlah mendatang dukun, ahli nujum serta tukang sihir dan jangan membenarkan (perkataan) mereka.
64. Janganlah menggambar gambar manuasia dan binatang. Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah tukang gambar.
65. Janganlah menyimpan gambar makhluk yang bernyawa di rumahmu karena akan menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahmu.
66. Tasymitkanlah orang yang bersin dengan membaca: "yarhamukallah" apabila dia mengucapkan: "alhamdulillah"
67. Jauhilah bersiul dan tepuk tangan.
68. Bersegeralah untuk bertaubat dari segala dosa dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan karena kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan hati-hatilah dari menunda-nunda.
69. Berharaplah selalu akan ampunan Allah serta rahmat-Nya dan berbaik sangkalah kepada Allah .
70. Takutlah kepada adzab Allah dan janganlah merasa aman darinya.
71. Bersabarlah dari segala mushibah yang menimpa dan bersyukurlah dengan segala kenikamatan yang ada.
72. Perbanyaklah melakukan amal shalih yang pahalanya terus mengalir meskipun engkau telah mati, seperti membangun masjid dan menyebarakan ilmu.
73. Mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah dari nereka.
74. Perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah.
Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya sampai hari kiamat juga kepada keluarganya dan seluruh shahabatnya.
(Diterjemahkan dari buletin berjudul 75 Washiyyah li Asy-Syabab terbitan Daarul Qashim Riyadl-KSA oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir)
Kamis, 13 Mei 2010
KELEBIHAN ISTRI IMRAN

“Maka tatkala isteri `Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”
[Q.S. Ali Imran : 36]
Telah diterangkan sebelum ini bahawa Allah telah memilih keluarga ‘Imran sebagai keluarga yang mulia. Mereka adalah orang-orang yang sangat ta’at mengikuti ajaran agama seperti yang ditunjukkan oleh isteri ‘Imran sendiri ; iaitu dengan menazarkan anaknya sebagai yang akan berkhidmat sepenuh masa di Baitul Maqdis.
Selanjutnya Allah menerangkan lagi tentang kelebihan isteri ‘Imran ini dengan berfirman: “Maka tatkala isteri `Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."[Q.S. Ali Imran : 36]
Ayat ini menerangkan bahawa isteri ‘Imran sangat sedih sekali. Sedih kerana harapan untuk mendapatkan anak lelaki tidak menjadi kenyataan. Yang lahir adalah anak perempuan. Bererti ia tidak dapat menunaikan nazarnya sebagai bukti kata’atan kepada Allah. Jadi ia sedih bukan kerana jantina anak yang dilahirkan itu tetapi kerana tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah melalui nazar yang telah ditetapkan, kerana dalam tradisi mereka anak yang dinazarkan untuk berkhidmat di Baitul Maqdis hanyalah anak lelaki sahaja.
Daripada sini nampaklah kelebihan isteri ‘Imran, kerana seorang hamba yang sangat dekat kepada Allah sangat sedih sekali apabila tidak diberi kesempatan untuk melakukan ketaatan kepada Allah meskipun ia bukan disebabkan kerana kehendaknya; sama seperti seorang hamba miskin yang sangat sedih kerana tidak dapat memberi sedekah kepada orang-orang yang akan pergi berperang, padahal kemiskinan itu bukanlah daripada kehendaknya, Allah berfirman tentang mereka ini: ”Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata kerana kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan”. [Q.S. At-Taubah : 92]
Jadi perkataan isteri ‘Imran; ”Ya Allah, sesungguh-nya aku melahirkan seorang anak perempuan”, adalah untuk mengungkapkan kesedihan kerana tidak dapat melakukan keta’atan. Ia merupakan akhlak mulia yang hanya dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang sentiasa suka dan cinta kepada Allah. Daripada sini nampaklah kelebihan isteri ‘Imran dalam beribadah kepada Allah.
Ayat selanjutnya pula menerangkan bahawa Allah telah mentaqdirkan segala-galanya dengan ilmu-Nya Yang Maha Sempurna. Disebalik kelahiran anak perempuan itu pasti ada hikmah yang besar. Mungkin isteri ‘Imran tidak mengetahuinya tetapi Allah Maha Mengetahui, Allah berfirman: ”dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidak seperti anak perempuan”.
Maksudnya, Allah lebih mengetahui tentang hikmah kelahiran anak perempuan itu, maka diharapkan istri ‘Imran tidak terlalu bersedih hati. Apa yang mesti dibuat adalah terus mengikuti dan mengagongkan kehendak-kehendak Allah, dan jangan sekali-kali mengukur sesuatu yang ditetapkan oleh Allah dengan kehendak diri sendiri.
Memanglah anak laki-laki tidak sama dengan anak perempuan ; anak laki-laki lebih kuat bekerja dan beribadah, lebih sesuai untuk menjaga dan memelihara rumah Allah berbanding dengan anak perempuan yang agak lemah dan kadangkala tidak berada dalam keadaan suci. Namun apabila Allah telah menetapkan anak yang dilahirkan oleh isteri ‘Imran itu anak perempuan bererti pertimbangannya bukanlah pertimbangan yang diatas itu, pertimbangannya bukan dilihat daripada sisi fizikal dan tabi’at tubuh badan, tetapi daripada sisi keimanan dan kesucian hati.
Dengan pemberitahuan Allah itu bahawa Dia lebih mengetahui apa yang dilahirkan oleh isteri ‘Imran itu bererti kini isteri ‘Imran mengetahui bahawa dihadapannya ada amanah besar yang mesti dijaga dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ia pun tidak berlengah-lengah lagi, iapun memberi nama bagi anaknya dan memohon perlindungan Allah dalam membesarkannya; “Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.
Perkataan isteri ‘Imran seperti yang disebutkan didalam ayat ini menerangkan kelebihannya sebagai hamba Allah yang betul-betul beriman kepada Allah. Ini dapat dilihat daripada pemberian nama anak, beliau memilih ‘Maryam’ sebagai nama anaknya yang bermakna ‘Pelayan Tuhan’ (Khadimatur-Rabb). Beliau berharap mudah-mudahan anak yang dilahirkan itu menjadi anak yang sangat ta’at kepada Allah sehingga sentiasa beribadah kepada-Nya.
Kelebihan lain yang dapat dilihat daripada perkataan isteri ‘Imran adalah perhambaan diri kepada Allah Yang Maha Melindungi. Beliau mengetahui bahawa seorang hamba yang taat pasti akan diganggu dan diperdaya oleh syaitan; iaitu musuh utama manusia di sepanjang masa. Syaitan tidak memulakan gangguannya ketika manusia sudah dewasa, tetapi ia sudah memulakan gangguan semenjak anak itu dilahirkan oleh ibunya.
Sesungguhnya seseorang anak itu menangis ketika lahir adalah disebabkan kerana gangguan syaitan yang terkutuk. Rasulullah bersabda: ”Tidak ada seorangpun anak cucu Adam yang dilahirkan melainkan syaitan mengganggu-nya ketika anak itu lahir sehingga anak tersebut menangis disebabkan kerana gangguan syaitan itu kecuali Maryam dan anaknya”. [H.R. Bukhary]. Bererti kelebihan istri ‘Imran dapat dilihat daripada permohonannya yang diperkenankan oleh Allah sehingga anaknya (iaitu Maryam) dan anak kepada anaknya (iaitu nabi Isa) dilindungi oleh Allah daripada gangguan syaitan. Keduanya lahir dalam keadaan tidak menangis kerana dilindungi oleh Allah.
Pada ayat berikutnya akan diterangkan pula tentang nazar isteri ‘Imran yang diterima oleh Allah dan anak perempuannya itu pula (Maryam) dibesarkan dengan rezeki yang istimewa daripada sisi Allah. (dikutip dari Tafsir Al-Ma'rifah karangan Dr. Musthafa Umar)
Menjadi Muslimah Diplomatis
DIPLOMASI adalah sebuah seni berkomunikasi. Kebanyakan orang menghubungkan diplomasi dengan politik. Namun realitanya diplomasi adalah sebuah metode komunikasi yang dapat diaplikasikan ke setiap percakapan dengan siapa saja, di mana saja. Tulisan ini akan memfokuskan pada berkomunikasi dengan pasangan kita dengan cara diplomatis.
Berkomunikasi secara diplomatis erat kaitannya dengan aspek etika dan akhlak yang sangat ditekankan Islam. Namun sayang sekali kita seolah losing touch (kehilangan pegangan) pada seni ini disebabkan tidak antusias dengan interaksi fisik dalam kehidupan sosial. Komputer, email, sms, facebook, twitter, dan berbagai media sosial lainnya telah merampas keahlian kita dalam berinteraksi secara fisik. Kita tidak lagi berbicara dengan orang lain face to face, sehingga hilanglah kapabilitas komunikasi bijaksana kita.
Secara singkat, bisa dikatakan bahwa gaya hidup ‘elektronik’ telah mempengaruhi kita untuk mengisolasi dan mengalienasi diri kita dari orang lain; anak-anak, suami dan lainnya. Atau misalkan kita melihat para remaja begitu ‘jauh’ dengan para orangtua mereka.
Anak-anak kita tak lagi duduk bersama orangtua mereka. Acara makan malam keluarga pun menjadi semakin jarang. Waktu untuk duduk bersama dan berbicara semakin sedikit, namun waktu untuk duduk di depan komputer, televisi, ber-mobile ria semakin meningkat. Padahal, Islam menganjurkan umatnya menguasai seni diplomasi dan akhlak terpuji.
...Islam menganjurkan umatnya menguasai seni diplomasi dan akhlak terpuji....
Rasulullah sendiri, walaupun dalam keadaan marah, beliau tetap memamerkan senyumannya, bahkan kepada orang yang beliau tidak sukai. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah berkata, “Ada seorang lelaki yang meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah. Ketika beliau melihat orang itu dari jauh, beliau bersabda, “Dia adalah seburuk-buruk saudara dan anak dalam kerabat.” Namun ketika orang (Uyainah) itu sudah duduk, beliau memberikan senyuman di wajah dan menerima dengan baik hati kedatangan orang itu. Ketika orang itu sudah pergi, Aisyah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ketika engkau melihat orang itu tadi dari jauh engkau berkata begini dan begitu. Tapi kemudian engkau berwajah ceria setelah berada di hadapannya dan menerima kedatangannya dengan baik hati.” Kemudian Rasulullah bersabda “Wahai Aisyah, kapankah engkau melihatku berbuat tidak baik?”
Kita juga diajarkan bahwa memutuskan hubungan lebih dari tiga malam dengan saudara kita adalah hal terlarang. Karena tidak halal bagi seorang muslim memutuskan silaturrahim dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Dan hal yang terbaik untuk dilakukan adalah memberi salam terlebih dahulu.
...dalam teknik diplomasi, Islam mengajarkan bahwa memutuskan hubungan lebih dari tiga malam dengan saudara kita adalah hal terlarang...
Selain itu, Islam pun mengajarkan sebuah teknik diplomasi lainnya, yaitu menahan amarah. Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang pandai bergulat, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
Mungkin banyak muslimah yang tidak menyadari bahwa mereka sejatinya memiliki kendali atas berbagai aksi dan reaksi para suami dengan menggunakan kata-kata santun, respons baik, dan diplomasi. Seorang muslimah yang dewasa haruslah menyadari hal tersebut. Inilah mengapa Anda bisa melihat banyak wanita sukses berusia 40 tahun atau lebih yang sangat hati-hati ketika berbicara, ketimbang para gadis atau perempuan muda. Sukses yang dimaksud adalah sukses dalam kehidupan pribadi dan manajemen rumah tangga, bukan sukses secara materi.
Ketika kita berinteraksi, maka di waktu yang sama kita sedang membangun dialog dengan orang lain. Yaitu dengan mengekspresikan sikap, emosi, dan perasaan kita dengan sikap yang bersahabat ataupun tidak bersahabat. Atau dengan menyandarkan diri kepada berbagai sinyal nonverbal; bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan lain sebagainya. Juga terkadang dengan menekankan apa yang dikatakan dan bentuk ekspresi. Dengan demikian, kita dapat menciptakan banyak efek dalam percakapan.
Salah satu bentuk percakapan adalah menjauhkan diri dari membatasi atau pembicaraan to the point melalui bahasa tidak jelas (samar/ambigu) yang disengaja. Metode komunikasi seperti ini mungkin bagus ketika kita mencoba untuk memahami tujuan utama orang yang bicara dan apa yang ingin dikatakannya.
...Islam pun mengajarkan sebuah teknik diplomasi lainnya, yaitu menahan amarah. Rasulullah bersabda bahwa orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah...
Dengan bahasa samar dan respons yang seolah menjauhi jawaban, Anda membiarkan orang tersebut berbicara. Secara partikular, pentingnya membiarkan orang berbicara adalah; untuk mendengar garis besar pembicaraan dan membiarkan mereka mendapatkan apa yang ingin mereka katakan, sehingga membuat mereka merasa lega. Hal ini yang harus sering dilakukan seorang muslimah ketika berinteraksi dengan laki-laki (suami, saudara, ayah, dan lainnya). Pasalnya, mereka terkadang datang berinteraksi dengan wanita (istri, ibu, saudari, dan lainnya) penuh tekanan dan mereka merasa ingin didengar. Terkadang mereka berbicara berputar-putar, bukan karena mereka ingin berbicara, tapi mencari kalimat tepat untuk mengakhiri pembicaraan mereka.
Dengan membiarkan lawan bicara berbicara, bukan berarti Anda tidak diizinkan mengeluarkan opini atau bersuara, tapi lebih kepada bagaimana memilih ‘medan perang’ Anda. Berpikir sebelum merespons, “Apakah dengan mengacaukan pembicaraan seseorang cukup baik, ataukah aku biarkan saja dia berbicara?” Seringkali Anda mendapatkan bahwa Anda bisa membiarkan dia berbicara. Anda mendengarkannya dan lontarkan beberapa komentar. Anda mendengarkan, sehingga setiap orang bisa mengakhiri pembicaraannya dengan penuh kedamaian. Kita menyebut hal ini sebagai komunikasi yang bisa memunculkan efek harmonis.
...Bentuk lain dari komunikasi diplomatis adalah menjadi bijak atau menampakkan sikap bersahabat kepada orang lain...
Bentuk lain dari komunikasi diplomatis adalah menjadi bijak atau menampakkan sikap bersahabat kepada orang lain. Yaitu dengan menggunakan kosakata yang bisa menaikkan wibawa Anda dan orang yang Anda ajak bicara. Ini mengingat, bahasa merupakan kekuatan humanis terhebat dalam interaksi manusia. Tidak ada manusia yang senang menghadapi orang yang bicara dengan tinggi hati. Dan sedikit dari kita yang bisa menerima kata-kata sarat dehumanisasi dan kritik.
Sebagai sosok yang pengayom dan pengasuh, faktanya wanita memiliki kecerdikan dalam berkomunikasi dengan cara yang menggembirakan, positif, dan peduli. Dengan demikian, seorang muslimah berkontribusi penuh mempromosikan cinta dan kedamaian di dalam rumah. Maka, memilih kata-kata yang tepat dalam dialog adalah sebuah keniscayaan.
Contohnya adalah dialog populer antara seorang suami dan istri tentang kemungkinan sang suami menikah lagi, namun sang istri berdialog penuh ejekan dan celaan. Mari asumsikan bahwa dalam percakapan tersebut sang istri bertanya kepada suaminya tentang kemungkinan dirinya menikah lagi. Apabila kemudian si suami gusar kepada istrinya, dia mengatakan, “Ya, dan istri baruku itu lebih pintar memasak dari dirimu!”, atau sesuatu yang menghina sang istri.
Tapi apabila sang istri berdialog secara apik, suami dengan bijak akan menjawab, “Seandainya aku menikah lagi, maka istriku harus secantik dirimu.” Jawaban tersebut merefleksikan penghargaan suami terhadap diri Anda, bukan malah menghina atau mengeluarkan kata-kata sarat dehumanisasi. Faktanya, jawaban terakhir penuh romantisme. Jadi metode seperti bisa diaplikasikan untuk mengubah sebuah percakapan pahit menjadi lebih manis.
...Hindari bahasa yang angkuh untuk bertanya kepada seorang dan berhati-hatilah dalam menggunakan bahasa tubuh serta ekspresi wajah...
Dengan demikian, beberapa tips komunikasi yang cerdik adalah:
1. Belajar mengidentifikasi dan menjauhi penggunaan bahasa yang agresif, tidak sensitif, ofensif, dan destruktif. Usahakan semaksimal mungkin untuk mengikis cara-cara komunikasi sarat dehumanisasi.
2. Pikirkan bahasa yang Anda gunakan sebagai sebuah proses membangun kedamaian dan sebuah kekuatan mempromosikan kedamaian.
3. Di setiap waktu, kerahkan kemampuan Anda semaksimal mungkin untuk melihat diri dan hidup Anda secara positif. Karena sikap positif bisa menular kepada orang lain.
4. Ingat bahwa Anda memiliki hak bertanya dan mengkritisi, agar percakapan menjadi lebih seimbang. Akan tetapi lakukan kedua hal tersebut secara bertanggungjawab dan dengan cara yang bermartabat. Dan terpenting, pilihlah ‘pertempuran’ Anda dengan bijak.
5. Perlakukan pasangan Anda dengan penuh hormat dan ingat bahwa dia adalah pasangan hidup Anda. Respek atau rasa hormat adalah hal sakral dalam sebuah pernikahan, jadi jangan nodai hal tersebut.
6. Cobalah untuk melihat dua sisi dari sebuah persoalan dan dengarkan pandangan orang lain. Terkadang kita salam memahami (misunderstanding) sehingga berujung miscommunication (salah paham). Mendengarkan adalah kunci utama. Hal ini merupakan tantangan di mana salah seorang dari kalian –atau keduanya— berkomunikasi dengan sebuah bahasa yang bukan menjadi bahasa ibu. Jadi harus diambil sebuah perawatan khusus, untuk memastikan bahwa kesempatan adil berbicara diberikan, sehingga pasangan Anda bisa mengekspresikan dirinya secara penuh. Perlakukan pasangan Anda dengan penuh integritas dan jangan sampai kehilangan kesabaran.
7. Hindari bahasa yang angkuh untuk bertanya kepada seorang dan berhati-hatilah dalam menggunakan bahasa tubuh serta ekspresi wajah.
Terakhir, selalu niatkan segala tindakan Anda untuk fi sabilillah. Ketika kita melakukan segala sesuatu karena Allah, maka tujuan kita menjadi jelas dan tepat. Sungguh beruntung orang-orang yang menjadikan Islam sebagai agama yang menjadi petunjuk seluruh manusia. [ganna pryadha/voa-islam.com]
MARYAM WANITA TERPILIH [Q.S. Ali Imran : 42-44]

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).(42) Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`.(43) Yang demikian itu adalah sebahagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.(44) [Q.S. Ali Imran : 42-44]
Telah diterangkan sebelum ini tentang keistimewaan yang diterima oleh isteri ‘Imran dan nabi Zakariya; selanjutnya akan diterangkan pula tentang keistimewaan yang diterima oleh Maryam; iaitu anak kepada ‘Imran.
Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)”.[Q.S. Ali Imran : 42]
Ayat ini menerangkan bahawa Allah telah memilih Maryam sebagai hamba-Nya dengan membekalkan keimanan yang kuat, kokoh dan sempurna. Tidak hanya dengan memberikan keimanan tetapi juga dengan menetapkan Maryam sebagai wanita yang suci yang tidak pernah melakukan perbuatan yang tercela.
Hati Maryam hanya dipenuhi dengan iman dan yakin, hidupnya pula dipenuhi dengan sholat dan zikir. Kemudian lebih daripada itu, Allah memilih Maryam sebagai penerima pemberian-pemberian istimewa yang membuat Maryam memiliki kelebihan apabila dibandingkan dengan sekalian wanita yang ada pada masa itu. Maryam-lah satu-satunya wanita paling mulia dihadapan Allah ketika itu.
Mengapa Allah memberitahukan perkara ini kepada Maryam? Apakah hikmah disebaliknya? Syekh Muhammad Mutawally Al-Sya’rawy menjelaskannya dalam tafsir beliau bahawa pemberitahuan itu bertujuan untuk menyiapkan diri Maryam sebagai seorang hamba yang akan menjalani perkara yang berat, tugas yang mencabar dan ujian yang besar.
Pemberitahuan itu juga sebagai pengetahuan bagi sekalian manusia bahawa Maryam adalah seorang hamba Allah yang istimewa. Melalui pemberitahuan itu diharapkan Maryam akan lebih menjaga diri dan manusia pula akan lebih menghormati Maryam.
Selanjutnya Allah berfirman kepada Maryam melalui perantaraan malaikat Jibril: ”Hai Maryam, ta`atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku`lah bersama orang-orang yang ruku`”.[Q.S. Ali Imran: 43]. Ayat ini menerangkan bahawa Allah memerintahkan Maryam untuk melakukan keta’atan dengan kekhusyu’an dan kesungguhan, kerana kata ‘qunut’ yang terdapat didalam ayat tersebut mengandung makna ‘dengan penuh kesempurnaan’.
Kesempurnaan sesuatu keta’atan adalah dengan kekhusyu’an dan kesungguhan. Allah juga memerintahkan Maryam untuk bersujud sebagai tanda merendahkan diri serendah-rendahnya dihadapan Allah Yang Maha Tinggi; melihat diri sebagai makhluk yang kecil, lemah, hina dan tidak memiliki apa-apa.
Didalam ayat diatas Allah juga memerintahkan Maryam untuk ruku’ bersama dengan orang-orang yang ruku’, maksudnya meskipun Maryam memiliki kedudukan yang sangat tinggi namun Maryam mesti tetap bersama dengan orang-orang yang beriman, tetap dalam jema’ah dan tidak mengasingkan diri sendiri.
Ia juga membawa makna bahawa Maryam mesti mengikut sebagai makmum ketika bersama-sama sholat dengan kaum lelaki, kerana didalam ayat ini Allah menyebut ‘bersama orang-orang yang ruku’ dalam bentuk ramai lelaki (jama’ muzakkar salim) bukan dalam bentuk ramai perempuan (jama’ muannats salim), bererti ketika sholat bersama-sama lelaki maka Maryam tetap sebagai seorang makmum meskipun sudah mencapai kedudukan yang sangat tinggi sekali dalam beragama.
Ayat selanjutnya pula menerangkan bahawa kisah Maryam tersebut dan sebelumnya kisah nabi Zakariya adalah dua kisah yang disampaikan oleh Allah kepada nabi Muhammad sehingga baginda mengetahuinya meskipun baginda tidak pernah mendengarnya daripada sesiapapun jua.
Allah berfirman: “Yang demikian itu adalah sebahagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa”.[Q.S. Ali Imran :44]
Ayat ini menjelaskan bahawa nabi Muhammad adalah betul-betul seorang rasul yang diutus. Sebagai bukti kerasulannya maka baginda dapat menyampaikan kisah-kisah masa lalu yang tidak pernah baginda ketahui sebelumnya. Baginda menceritakannya melalui perantaraan wahyu yang disampaikan kepada baginda sebagai bukti seorang rasul yang diutus, bahkan penyampaian tersebut merangkumi perkara terperinci; iaitu bagaimana para pemimpin Bani Israel menyelesaikan masalah mereka ketika mereka bersengketa tentang siapa yang lebih patut memelihara Maryam.
Melalui firman-firman Allah maka Rasulullah menyampaikan bahawa penyelesaian sengketa tersebut adalah dengan cara pengundian melalui pelemparan anak panah (qolam) kedalam laut oleh masing-masing yang bersengketa; sesiapa yang anak panahnya terapung dan bergerak melawan arus maka ialah yang berhak memelihara Maryam.
Ditaqdirkan ketika itu bahawa anak panah nabi Zakariya yang tidak tenggelam dan bergerak terapung melawan arus. Pengundian dilakukan kerana itulah cara terbaik untuk mengelakkan persengketaan, kerana masing-masing mereka sangat berharap untuk memelihara Maryam. Melalui pengundian maka mereka meninggalkan kehendak masing-masing dan menyerahkan urusan penyelesaian tersebut kepada kehendak Allah.
Demikianlah terperincinya kisah yang disampaikan oleh Rasulullah sebagai bukti bahawa baginda adalah betul-betul seorang rasul yang menerima wahyu-wahyu daripada Allah Yang Maha Mengetahui segala perbuatan yang telah berlalu. (dikutip dari Tafsir Al-Ma’rifah karangan Dr. Musthafa Umar)
Langganan:
Komentar (Atom)

